12. MEREKA DIHARAMKAN SEMBAHYANG KECUALI DI TEMPAT-TEMPAT KHUSUS
Umat-umat zaman dahulu -termasuk Bani Israil- tidak bersembahyang kecuali di tempat-tempat khusus, seperti di dalam biara-biara, kuil-kuil dan sebagainya. Siapa yang tidak dapat hadir di tempat-tempat tersebut, ia tidak dibolehkan sembahyang di tempat lain, dimana saja di muka bumi. Bila ia sudah tiba kembali di tempat semula, ia harus meng-qadha semua sembahyang yang tertinggalkan (yang terlewat selama dalam perjalanan atau bepergian). (Al-Fath : I/436).
Menurut Al-Bazzar, hadist berasal dari Ibnu Abbas menuturkan, “Tidak seorang pun dari para Nabi yang bersembahyang sebelum sebelum tiba di mihrabnya”. (Al-Fath: I/438).
Lain halnya bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Bagi mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan muka bumi ini sebagai tempat untuk menunaikan shalat. Tidak ditentukan tempat khusus untuk menunaikan shalat, atau dilarang shalat di tempat lain. Demikian di dalam Shahih Bukhari (Al-Bukhari: Bab Tayamun).
Kitab Syaraf Al-Ummah Al-Muhammadiyyah
Al-Alim Al-Allamah Al-Muhaddist As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani